Ekspedisi Arus Balik II dilaksanakan pada tanggal 1-25 Juli 2013 di Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Sudah tahun kedua Marine Instrumentation and Telemetry (MIT) melaksanakan ekspedisi ini dengan tujuan pengaplikasian ilmu dengan merancang berbagai instrumen yang berkemampuan dalam pengambilan data kelautan juga parameter fisik, biologi, dan kimia perairan. Instrument yang dibuat diusahakan agar dapat menghasilkan data oseanografi secara realtime dan kontinu serta dapat dibuat stasiun permanen dengan cuaca dan kondisi laut pada umumnya.




Kegiatan ini terdiri dari perancangan, pembuatan, dan uji coba dari instrumen-instrument yang telah dibuat. Uji coba dilakukan di lapangan secara langsung dengan mengambil berbagai parameter perairan, seperti penggunaan alat pengukur kecepatan arus, pasang surut, gelombang dan pengukur kecepatan angin.
Wakatobi memiliki kondisi oseanografi unik dan keadaan masyarakat sekitar dengan mata pencaharian sebagai petani rumput laut yang biasa disebut “petani agar-agar”. Sehingga data oseanografi sangat membantu dalam tinggi rendahnya produksi rumput laut. Oleh karena itu Wakatobi terpilih dengan membawa instrumen baru seperti anemometer dan wavebuoy yang merupakan instrumen pengukur tinggi gelombang juga alat lainnya yang sudah pernah di uji coba pada ekspedisi sebelumnya seperti drifter buoyuntuk mengukur kecepatan dan arah arus, motiwali alat pengukur pasang surut, dan data logger berfungsi mengukur suhu dasar perairan.


Ekspedisi ARUS BALIK I (COUNTER CURRENT Expedition I) merupakan suatu kegiatan MIT Klub di daerah-daerah penyelaman yang berwawasan lingkungan. Ekspedisi ARUS BALIK I akan dilaksanakan pada bulan April 2012 berlokasi di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Bentuk kegiatan ekspedisi ini yaitu riset pada 9 titik yang telah ditentukan di sekitar Pulau Pramuka dan workshop berupa kegiatan seminar untuk meningkatkan kepedulian masyarakat pesisir terhadap lingkungannya serta pemberian beberapa teknik pelestarian dan pemanfaatan lingkungan yang baik.


Kegiatan riset berupa pengambilan data arus, suhu, dan pasang surut di Pulau Pramuka dilakukan dengan instrumen berupa drifter, data logger, dan alat pengukur pasang surut yang mudah digunakan dan memiliki akurasi tinggi dalam pengambilan informasi data pada perairan tersebut dengan tepat guna. Informasi yang telah didapatkan kemudian disampaikan kepada pemerintah daerah, masyarakat, instansi dan kalangan intelektual terkait melalui website dan laporan ilmiah.